Senin, 02 Mei 2011

Hukum Tidak Membaca Al-Quran, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya: Apa nasehat Syaikh yg mulia kepada orang-orang yg menghabiskan waktunya selama sebulan bahkan berbulan-bulan tetapi tdk pernah menyentuh Kitab Allah sama sekali tanpa udzur. Dan, salah seorang di antara mereka akan anda dapatkan sibuk mengikuti edisi-edisi Majalah yg tdk bermanfa'at?
Jawaban
Disunnahkan bagi seorang mukmin & mukminah utk memperbanyak bacaan terhadap Kitabullah disertai dg tadabur & pemahaman, baik melalui mushaf ataupun hafalan. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Artinya: Ini adalah sebuah kitab yg kami turunkan kepadamu penuh dg berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya & supaya mendapat pelajaran orang-orang yg mempunyai pikiran," (Shad: 29)
Dan firmanNya,
"Artinya: Sesungguhnya orang-orang yg selalu membaca kitab Allah & mendirikan shalat & menafkahkan sebahagian dari rizki yg Kami anugerahkan kepada mereka dg diam-diam & terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yg tdk akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka & menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (Fathir:29-30)
Tilawah yg dimaksud mencakup bacaan & Ittiba' (pengamalan), bacaan dg tadabbur & pemahaman, sedangkan ikhlash kepada Allah merupakan sarana di dalam Ittiba ' & di dalam tilawah tersebut juga terdapat pahala yg besar, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
"Artinya: Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pd Hari Kiamat sebagai penolong bagi orang-orang yg membacanya."
Dan dalam sabda beliau yg lain,
"Artinya: Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur 'an & mengajarkannya."
Dan dalam sabda beliau yg lain,
"Artinya: Barangsiapa yg membaca satu huruf dari Kitabullah, maka dia akan mendapatkan satu kebaikan sedangkan satu kebaikan itu (bernilai) sepuluh kali lipatnya, aku tdk mengatakan 'Alif Laam Miim ' sebagai satu huruf, akan tetapi 'Alif sebagai satu huruf, 'Laam ' sebagai satu huruf & 'miim ' sebagai satu huruf."
Demikian pula telah terdapat hadits yg shahih dari beliau, bahwasanya beliau bersabda kepada Abdullah bin Amr bin al-Ash,
"Bacalah Al-Qur 'an setiap bulannya. " Dia (Abdullah bin Amr bin Al-Ash) berkata, "Aku menjawab, 'Aku menyanggupi lebih banyak dari itu lagi.' Lalu beliau bersabda lagi, 'Bacalah setiap tujuh malam sekali."
Para sahabat Nabi mengkhatamkannya pd setiap seminggu sekali.
Wasiat saya kepada semua para Qari Al-Qur'an agar memperbanyak bacaan Al-Qur'an dg cara mentadabburi, memahami & berbuat ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala disertai tujuan utk mendapatkan faedah & ilmu. Dan, hendaknya pula dapat mengkhatamkannya setiap bulan sekali & bila ada keluangan, maka lebih sedikit dari itu lagi sebab yg demikian itulah kebaikan yg banyak. Boleh mengkhatamkannya kurang dari seminggu sekali & yg utama agar tdk mengkhatamkannya kurang dari tiga hari sekali karena hal seperti itu yg sesuai dg petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash & karena membacanya kurang dari tiga hari akan menyebabkan keterburu-buruan & tdk dapat mentadabburinya.
Demikian juga, tdk boleh membacanya dari mushaf kecuali dalam kondisi suci, sedangkan bila membacanya secara hafalan (di luar kepala) maka tdk apa-apa sekalipun tdk dalam kondisi berwudhu'.
Sedangkan orang yg sedang junub, maka dia tdk boleh membacanya baik melalui mushaf ataupun secara hafalan sampai dia mandi bersih dulu. Hal ini berdasarkan riwayat Imam Ahmad & para pengarang buku-buku As-Sunan dg sanad Hasan dari 'Ali , bahwasanya dia berkata, "Tidak ada sesuatupun yg menahan (dalam versi riwayat yg lain: menghalangi) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari membaca Al-Qur'an selain jinabah."
Wa billahi at-Tawfiq.
(Fatawa al-Mar'ah, h.96-97, Dari fatwa Syaikh ibn Baz)
(Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama. Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia, Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq)
___ Foote Note
. HR. Muslim, Shalah al-Musafirin (804).
. HR. Al-Bukhari, Fadha’il al-Qur’an (5027).
. HR. At-Tirmidzi, Fadha'il al-Qur 'an (2910).
. HR. Al-Bukhari, Fadha 'il al-Qur'an (5052); Muslim, ash-Shiyam (1159).
Penulis: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz & diterbitkan oleh almanhaj.or.id

Menjadikannya Sebagai Pekerjaan Tetap - Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Pada zaman sekarang ini, ada sebagian thullabul ilmi (penuntut ilmu syar’i) menjadi terkenal bisa mengobati orang dg menggunakan ruqyah. Kemampuan meruqyah membuatnya menjadi terkenal sehingga dapat dijumpai sarana-sarana tersebut di tengah-tengah masyarakat.
Dengan banyaknya imbalan yg diperoleh dari meruqyah ini, mereka rela melepaskan kesibukan-kesibukan & mengambil jalan pintas dg cara mengkhususkan diri sebagai tukang ruqyah. Mereka pun banyak memperluas waktu utk itu & selalu siap apabila ada orang yg datang utk berobat, sehingga membuat mereka sibuk mengatur jam-jam berobat layaknya dokter-dokter & rumah sakit spesialis, serta menjadikan meruqyah ini sebagai pekerjaan tetap (profesi).
Mereka mengkhususkan diri utk meruqyah & menjadikannya sebagai pekerjaan tetap (mata pencaharian) sehingga menjadikan dirinya terkenal. Cara seperti ini dapat mendatangkan kemudharatan, baik bagi peruqyah itu sendiri maupun bagi mereka yg diruqyah. Di antara kemudharatan itu antara lain:
Dengan banyaknya pengunjung yg datang berobat kepada peruqyah, bisa menimbulkan kesalahpahaman di kalangan orang awam. Mereka menyangka, hanya dg melihat banyaknya pengunjung yg datang kepadanya, peruqyah tadi mempunyai kekhususan yg tdk dimiliki oleh orang lain. Sehingga dg demikian, pentingnya peruqyah melebihi pentingnya bacaan-bacaan yg dibaca oleh peruqyah tadi, yaitu kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala . Bahkan orang-orang awam tersebut tdk lagi melihat pentingnya apa yg dibaca oleh peruqyah, namun hanya melihat kepada peruqyah itu saja.
Dalam hal meruqyah, yg memberi manfaat sebenarnya adalah apa yg dibaca dari Al Qur`an, sedangkan peruqyah itu sendiri hanya membacakan saja. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan Kami turunkan dari Al Qur`an suatu penawar & rahmat bagi orang-orang yg beriman…" (Al Isra`: 82).
Dalam surat lain Allah berfirman:

"…Katakanlah: “Al Qur`an itu adalah penawar & petunjuk bagi orang-orang yg beriman …." (Fushilat:44).
Kita tdk memungkiri ada atsar dari keshalihan peruqyah, kuat keimanannya, tsiqah-nya terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta tawakalnya kepadaNya, namun sebenarnya, dia itu hanyalah membacakan saja. Karena yg mempunyai pengaruh kesembuhan, sebenarnya ialah kalamullah, yaitu Al Qur`an Al Karim yg dibaca oleh si peruqyah tersebut.
Jadi setiap apa yg melemahkan kepercayaan seseorang terhadap kalamullah, maka seharusnya dicegah & tdk dibiarkan.
Ibnul Qayyim berkata: “Maka Al Qur`an-lah yg menjadi obat sempurna bagi semua penyakit hati, penyakit badan, maupun penyakit dunia & akhirat. Tidak seorang pun yg bisa menyembuhkannya kecuali Dia. Apabila seseorang sudah memperbaiki caranya berobat dg menggunakan Al Qur`an, kemudian sudah dia tempatkan pd anggota badan yg sakit dg penuh keyakinan & keimanannya, menerima dg lapang dada, & dg keyakinan yg mantap serta semua syarat-syaratnya sudah terpenuhi, maka penyakit itu tdk akan pernah menghalanginya utk mendapat kesembuhan. Sebab bagaimana mungkin penyakit dapat menghalangi ataupun melawan kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rabbnya segala apa yg ada di langit & di bumi; apabila Al Qur`an itu diturunkan di atas gunung, maka gunung itu akan hancur; / kalau diturunkan di atas bumi, maka bumi itu sendiri akan terpotong & terbelah" .
Apabila kita melihat sirah (perjalanan hidup) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sirah sahabat-sahabatnya serta sejarah para ulama kaum Muslimin yg tdk diragukan lagi keimanan & kelebihan mereka, maka kita tdk akan menemukan seorang pun di antara mereka yg meninggalkan pekerjaan-pekerjaan mereka & mengkhususkan diri dg membuka praktek pengobatan melalui ruqyah. Kita juga tdk akan mendapatkan salah seorang pun di antara mereka yg menjadikan ruqyah sebagai mata pencaharian, sehingga membuat mereka menjadi terkenal di kalangan masyarakat, apabila disebut namanya, maka disebut juga pekerjaannya ini beserta namanya.
Tidak diragukan lagi, bahwa setiap zaman penyakit-penyakit itu bertambah banyak. Namun kita tdk melihat salah seorang pun dari pemimpin kaum Muslimin yg menisbatkan dirinya sebagai tukang ruqyah seperti penisbatan kepada mufti (pemberi fatwa) & qadhi (hakim). Pada zaman dahulu, orang yg menderita suatu penyakit, dia sendirilah yg meruqyah dg menggunakan Kitab Allah (Al Qur`an) & do’a-do’a yg datang dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan bila ada seseorang yg sakit, kemudian ia diruqyah oleh orang yg faham tentang agama, maka hal itu boleh saja. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Ada seorang di antara kami yg digigit kalajengking pd waktu itu kami sedang duduk bersama Rasulullah, lalu ada seorang berkata,”Ya, Rasulullah. Bolehkah saya meruqyahnya?” Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ
"Barangsiapa di antara kalian yg mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, hendaklah ia lakukan".
Seandainya mengkhususkan diri utk meruqyah & menjadikannya sebagai pekerjaan tetap (profesi) serta menyebarkannya di kalangan masyarakat adalah suatu kebaikan, tentu para sahabat akan melakukannya lebih dahulu daripada kita. Hal ini, sama juga ketika suatu amalan yg termasuk bagian dari syari’at Islam, namun dilakukan dg cara yg tdk sesuai dg tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam & tdk pernah dilakukan oleh para sahabat, kemudian dianggap baik oleh masyarakat, maka demikian itu termasuk bid’ah. Hal ini sesuai dg penjelasan As Salt bin Bahram, dia berkata: “Sungguh pd suatu hari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu berjalan melewati seorang perempuan yg sedang memegang tasbih yg ia gunakan utk bertasbih, maka Ibnu Mas’ud pun memotong tasbih tersebut lalu membuangnya”. Kemudian beliau juga melewati seorang laki-laki yg sedang bertasbih (memuji-muji kepada Allah) dg menggunakan batu-batu kecil, beliau pun menendang batu-batu itu dg kakinya, lantas berkata,’Kelalaian telah membawa kebid’ahan yg merupakan suatu kezhaliman, / kalian telah melampaui keilmuan para sahabat Radhiyallahu 'anhum?’."
Sebenarnya yg membuat para tukang ruqyah pd zaman kita ini lebih terkenal ialah, karena mereka menyediakan tempat-tempat khusus utk menemui mereka kapan mereka suka, sebagaimana yg dilakukan para dokter, pedagang / pemilik perusahaan lainnya.
Seandainya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membuka tempat khusus utk meruqyah -tentu akan banyak yg datang, & kemudian beliau sibuk hanya utk menemui mereka kapan mereka mau- tentu beliau tdk akan dapat mengajarkan ilmu syar’i, & juga tdk dapat menjelaskan tentang kebenaran agama Islam kepada umat. Terlebih lagi pd zaman yg diliputi kejahilan seperti saat ini serta merebaknya kebodohan & khurafat, ketergantungan kepada selain Allah, kepada wali-wali setan, para syaikh & kepada tokoh tertentu.
Para ulama Ahlus Sunnah tdk mengkhususkan diri mereka semata-mata utk melayani pengobatan dg ruqyah ini, karena mereka betul-betul faham terhadap agama Islam -semoga Allah merahmatinya-. Para ulama Ahlus Sunnah banyak menyibukkan diri dg menuntut ilmu utk memahami agama Islam, mendakwahkannya & berjihad di jalan Allah.
Para setan, apabila melihat ketergantungan seseorang kepada peruqyah yg sudah menolongnya, maka tanpa sepengetahuannya, setan itu akan berpura-pura takut kepada peruqyah, kemudian akan mengatakan bahwa dirinya akan keluar dari tubuh orang yg dimasukinya tadi & yg semisalnya, dg tujuan utk menambah kepercayaan orang tadi kepada peruqyah lebih kuat daripada kepercayaannya terhadap apa yg dibaca oleh peruqyah itu. Di samping itu, setan-setan itu juga bermaksud agar orang awam berkeyakinan, bahwa ruqyah mempunyai keanehan tersendiri.
Dalam riwayat Abu Dawud dg lafazhnya sebagai berikut: dari Zainab -istri Abdullah bin Mas’ud c – berkata: Sesungguhnya Abdullah melihat benang di leherku, lalu ia berkata,”Apa ini?” Aku menjawab,”Benang utk meruqyahku”. Zainab berkata: Lalu Abdullah mengambilnya, kemudian memotongnya, lalu ia berkata: Kamu semua, wahai keluarga Abdullah, sungguh tdk butuh kepada syirik. Aku telah mendengar Rasulullah bersabda.
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَلَةَ شِرْكٌ
"Sesungguhnya ruqyah , tamimah, & tiwalah adalah syirik".
Maka aku berkata: “Waktu itu mataku berair, & aku berobat kepada fulan Yahudi. Jika ia meruqyahku, maka aku merasa enak”.
Maka Abdullah berkata: Itu hanyalah perbuatan setan. Setan itu merangsangnya dg tangannya. Karenanya, jika ia meruqyah, ia menahannya dari rasa salah. Akan tetapi cukuplah kamu mengucapkan sebagaimana Rasulullah ucapkan.
أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ, وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِى, لاَشِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَيُغَادِرُ سَقَمًا.
"Hilangkanlah penyakit wahai Rabb manusia, & sembuhkanlah! Engkau adalah Dzat Penyembuh, tdk ada kesembuhan kecuali kesembuhan Engkau, kesembuhan yg tdk meninggalkan penyakit".
Tipu daya setan terhadap manusia itu sangat besar, sampai-sampai tdk bisa diketahui, kecuali oleh orang-orang yg faqih dalam masalah agama. Sedangkan apa yg dilakukan orang-orang awam ketika mendengar cerita-cerita aneh tentang si peruqyah, mereka hanya berlomba-lomba menemui tukang ruqyah itu & memberikan kepada mereka upah yg tdk sedikit jumlahnya. Lebih-lebih lagi apabila mereka mendengar bahwa setan-setan berbicara dg menggunakan lidah orang-orang yg dimasukinya tadi di depan peruqyah, kemudian peruqyah tadi membuat perjanjian dg setan itu utk tdk masuk lagi ke dalam tubuh orang yg dimasukinya tersebut.
Semakin banyak tersebar cerita-cerita aneh seperti ini, semakin banyak pula orang-orang yg mendatangi peruqyah ini dg maksud utk memastikan bahwa dalam dirinya memang tdk ada jin. Seandainya keadaan seperti ini memang benar merupakan karamah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka seharusnya bagi peruqyah itu utk takut dari akibat yg disebabkan oleh perbuatannya itu. Apalagi seandainya ia tdk bisa menjamin bahwa hal itu bisa mengakibatkan istidraj, / hal itu hanya merupakan tipu daya setan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ketika kejadian-kejadian yg luar biasa itu sering terjadi pd diri seseorang, maka hal itu tidaklah mengurangi derajat orang tersebut. Banyak di antara orang-orang shalih yg bertaubat dari hal seperti ini. mereka bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana taubatnya orang-orang yg berbuat dosa-dosa, seperti dosa zina & mencuri. Mereka mengadukan hal itu kepada yg lainnya lantas berdo’a memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala utk menghilangkannya. Mereka juga memerintahkan kepada orang-orang yg ingin bertaubat agar jangan mengharapkan kejadian-kejadian aneh tersebut, lantas menjadikannya sebagai ambisi yg harus didapatkannya. Jangan pula berbangga dg hal itu kemudian menyangka, bahwa hal itu sebagai bagian dari karamah. Bagaimana seandainya, jika hal itu benar-benar perbuatan setan dg maksud utk menyesatkan mereka? Karena saya tahu, orang-orang yg diajak berbicara oleh tumbuh-tumbuhan, ia memberitahukan bahwa di dalam dirinya ada manfaatnya. Saya tahu, sebenarnya yg mengajak mereka berbicara itu adalah para setan yg ada dalam tumbuh-tumbuhan tersebut. Saya juga mengerti orang-orang yg diberi tahu oleh batu, pohon; lantas batu & pohon-pohon itu berkata kepada mereka “Mudah-mudahan dapat menyenangkanmu wahai wali Allah”. Ketika dibacakan ayat kursi kepadanya, maka hilanglah semua itu. Saya juga mengerti orang-orang yg pergi menangkap burung; lantas burung-burung itu berkata kepadanya “Bawalah diriku agar aku dimakan oleh orang-orang yg sangat membutuhkan”. Hal itu bisa terjadi, karena setan masuk ke dalam tubuh burung itu; sebagaimana ia masuk ke dalam tubuh manusia, lalu berkata seperti yg diucapkan tadi”.
Bisa jadi, orang-orang yg meruqyah itu merasa bahwa dirinya adalah salah seorang wali Allah yg berbakti kepadaNya, / merasa tinggi hati & yg lainnya. Ini disebabkan karena begitu banyak penyakit yg sudah disembuhkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui ruqyahnya; demikian juga melihat bagaimana setan takut kepadanya & langsung keluar dari orang yg kesurupan, & yg lainnya. Para salafush shalih dahulu -semoga Allah merahmati mereka- merasa takut & khawatir terhadap hal-hal seperti ini, & mereka pun menutup jalan masuk perasaan-perasaan seperti itu.
Orang yg meruqyah, sebagaimana yg sudah disebutkan di muka, tidaklah seperti seorang dokter yg banyak dikunjungi para pasien utk berobat kepadanya; karena seorang dokter itu mengobati dg pengobatan yg sudah diketahui, & dia tdk mengetahui bahwa obat itu bermanfaat kecuali apabila pasien itu sendiri yg mengatakan kepadanya tentang penyakitnya. Bahkan seorang pasien meyakini, bahwa kesembuhannya itu tergantung dg obat-obatan yg diberikan oleh dokter, bukan dg dokter yg mengobatinya. Ini berbeda dg seorang peruqyah; maka dia menyangka bahwa kesembuhan itu tergantung pd dirinya bukan kepada apa yg dibacanya, dg alasan Al Qur`an ada pd diri setiap Muslim, mereka bisa membacanya kapan saja mereka inginkan, namun walaupun demikian, mereka berserah diri agar yg membacanya itu harus si peruqyah. Hal ini bisa memasukkan perasaan ujub & sombong pd diri peruqyah; dia menyangka dirinya dg prasangka yg bermacam-macam. Tidak diragukan lagi, menjauhi hal seperti ini adalah lebih baik. Allahu a’lam bish shawab.
Salah satu kritik yg perlu diarahkan kepada para tukang ruqyah yg menggunakan tata cara yg tdk dicontohkan syar’i. Yaitu, kadang-kadang mereka berbicara tanpa didasari oleh ilmu. Misal, apabila mereka meruqyah seseorang, namun jin yg ada dalam tubuh orang tersebut tdk mau berbicara, mereka dg mudahnya berkata “tidak ada jin dalam tubuhmu, namun engkau hanya terkena ‘ain”, / perkataan “tidak ada jin dalam tubuhmu & tdk juga penyakit ‘ain”. Mereka juga berkata “kami tidaklah meruqyah orang kesurupan, kecuali jin itu pasti akan berbicara & berdialog dg kami karena takutnya kepada kami, / kepada bacaan-bacaan yg kami baca”.
Hal seperti ini bukan berarti menunjukkan si peruqyah tersebut berilmu. Karena sesungguhnya orang yg kesurupan, apabila dibacakan doa & dzikir-dzikir yg biasa digunakan utk meruqyah, kemudian jin yg ada di dalam tubuhnya itu merasa takut, maka disebabkan karena ketakutannya itu ia pun berbicara. Atau mungkin saja jin itu tdk berbicara & tdk takut. Jadi, dari mana para tukang ruqyah itu mengatakan dg yakin, bahwa tdk ada jin / penyakit ‘ain pd diri seorang kesurupan yg sedang diruqyahnya? Kesurupan seperti ini bisa terjadi, karena orang yg sakit tadi meninggalkan doa-doa yg diajarkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, & sebaliknya ia yakin dg perkataan-perkataan para tukang ruqyah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yg kamu tdk mengetahui pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan & hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya". (Al Isra`: 36).
Hal yg perlu juga dikritik dari para peruqyah tersebut, yaitu cara mereka mengumpulkan orang-orang yg datang berobat kepadanya, kemudian dia membacakan kepada mereka sekaligus dg satu bacaan, dg tujuan utk mempersingkat waktu, karena begitu banyak orang yg datang berobat kepadanya. Kemudian para pengunjung tadi mengambil ludah peruqyah dg menggunakan bejana-bejana mereka. Ataupun mengadakan majelis khusus dg mengundang banyak orang utk diruqyah, kemudian diruqyah satu persatu, dg maksud sebagai tontonan kepada masyarakat sebagai media pengobatan massal.
Melihat begitu banyaknya keuntungan yg diperoleh dg menggunakan cara seperti itu oleh para peruqyah, seperti harta banyak, maka beberapa dukun maupun orang pintar & pembohong besar berlomba-lomba menampakkan diri sebagai tukang ruqyah. Mereka pun membuka tempat-tempat khusus utk tujuan ini, mencampurkan kebenaran dg kebatilan sehingga membuka pintu-pintu kehancuran bagi umat manusia. Dengan demikian, sulit utk mengingkari para dukun & orang pintar, karena semuanya bercampur dg orang yg tdk mencampurkan bacaan mereka dg tipuan / ramalan yg mengakibatkan sulitnya membedakan antara mereka. Dan suatu kemungkaran itu menjerumuskan kepada kehancuran, maka wajib bagi kita utk mencegahnya, sekalipun orang yg melakukan hal itu bermaksud baik.
Abdullah bin Mas’ud & para sahabatnya serta para ulama tersohor melarang utk menggantungkan Al Qur`an walaupun itu adalah kalamullah, sebagai cara utk mencegah kemungkaran, agar hal itu tdk menjurus pd penggantungan tama’im . Dan sebagaimana hal ini difatwakan oleh Lajnah Ad Da’imah Lil Buhutsil ‘Ilmiah Wal Ifta’ Saudi Arabia.
Orang-orang yg mengkhususkan diri utk meruqyah & menjadikannya sebagai pekerjaan tetap (profesi), mereka mengira jika hal itu boleh saja dilakukan & hukum melakukannya adalah sunnah; & sunnah termasuk salah satu hukum syar’i yg merupakan suatu ibadah. Maka perbuatan ini bisa menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan bid’ah, karena menjadikan ruqyah sebagai profesi tdk pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam & tdk juga oleh para khulafa’ur rasyidin.
Adapun yg terjadi pd zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika beberapa sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melewati sebuah sumber air yg di dekatnya ada sekelompok orang. Salah seorang dari sekelompok orang tersebut digigit binatang berbisa. Kemudian salah seorang dari mereka berkata: “Apakah di antara kalian ada yg dapat meruqyah karena di dekat sumber air itu ada orang yg tersengat binatang?” Kemudian pergilah salah seorang di antara para sahabat membacakan surat Al Fatihah dg perjanjian, apabila ia sembuh, maka ia dibayar dg seekor kambing. Setelah dibacakan, orang itu pun sembuh, lalu ia memberikan seekor kambing sesuai dg perjanjian mereka sebelumnya. Ketika sahabat tadi kembali ke rombongannya dg membawa seekor kambing, rombongannya tdk mau menerima kambing itu & berkata: “Engkau telah mengambil upah dari kitab Allah”. Ketika mereka sampai di kota Madinah, mereka pun melaporkan kejadian tersebut kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam . Mereka berkata,”Wahai, Rasulullah. Bolehkah kita mengambil upah dari Kitab Allah?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menjawab:
إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللهِ.
"Sebaik-baik upah yg kalian ambil adalah upah dari Kitab Allah".
Beberapa sahabat ada yg terkenal dg doanya yg mustajab, seperti Sa’ad bin Abi Waqqas. Dia termasuk salah seorang dari sepuluh orang yg diberi kabar gembira utk masuk surga, & termasuk orang yg didoakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam agar doanya terkabul. Sa’ad berkata: Rasulullah mendoakanku:
اَللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لَهُ إِذَا دَعَاكَ
"Ya Allah, kabulkanlah doanya apabila ia berdoa kepadaMu".
Selain itu juga beberapa tabi’in (pengikut Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) seperti Uwais Al Qarni Radhiyallahu 'anhu. Namun, walau demikian keadaannya, tidaklah membuat kaum Muslimin sangat membutuhkan kemustajaban doa mereka utk memperbaiki dunia & agama kaum Muslimin, meski sebenarnya tdk ada larangan syar’i utk datang & meminta doa kepada mereka, sebagaimana yg dilakukan Umar bin Khaththab z kepada Uwais bin Al Qarni, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahukannnya utk melakukan hal itu. Walau demikian, tdk diragukan lagi, seandainya Umar bin Khaththab melihat penduduk Madinah berkumpul di tempat Uwais utk meminta doa, demikian juga penduduk Makkah & Irak, tentu ia akan mencegahnya, meskipun beliau juga pernah meminta doa kepada Uwais. Hal ini dia lakukan karena takut akan terjadi fitnah pd diri orang-orang tersebut & terhadap Uwais sendiri. Dan karena kefakihan Uwais Al Qarni Radhiyallahu 'anhu , ia berusaha menyembunyikan keberkahan doanya & tdk menjerumuskan diri sendiri & orang lain terhadap fitnah.
Diriwayatkan dari Usair bin Jabir. Dahulu, ketika Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu didatangi oleh sekelompok rombongan yg datang dari negeri Yaman, beliau bertanya kepada mereka: “Apakah di antara kalian ada yg bernama Uwais bin Amir?” Sampai ia ditunjukkan kepada Uwais, kemudian beliau berkata: “Apakah engkau Uwais bin Amir?” Dia menjawab,”Ya, saya Uwais bin Amir.” Beliau berkata lagi,”Uwais yg berasal dari Bani Qarni, dari suku Murad?” Uwais menjawab,”Ya, betul.” Umar lalu melanjutkan,”Dulu engkau pernah terkena penyakit kusta, namun setelah itu engkau pun sembuh, kecuali masih tertinggal sedikit lagi?” Uwais menjawab,”Ya, benar.” Kemudian Umar melanjutkan,”Engkau mempunyai seorang ibu?” Uwais menjawab,”Betul.” Setelah itu Umar berkata lagi,”Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,‘Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama sekelompok rombongan dari negeri Yaman, dia berasal dari Bani Qarni dari suku Murad. Dahulu ia pernah terkena penyakit kusta, namun ia pun sembuh dari penyakit tersebut kecuali masih tertinggal sedikit lagi. Dia sangat berbakti kepada ibunya. Apabila dia bersumpah dg Nama Allah, karena baktinya kepada ibunya, Allah akan mengabulkan segala permintaannya. Apabila engkau mau agar dia memohonkan pengampunan untukmu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala , maka lakukanlah’.” Umar lalu berkata: “Mohonkanlah pengampunan untukku kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala ”. Setelah itu Uwais pun mendoakan agar Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuninya.
Setelah itu Umar bertanya,”Hendak kemanakah engkau?” Dia menjawab,”Ke negeri Kufah.” Umar berkata lagi,”Maukah engkau kutuliskan sepucuk surat kepada gubernur di sana?” Dia menjawab,”Aku lebih senang bersama orang-orang miskin ini.” Perawi berkata: “Setelah satu tahun dari pertemuan mereka itu, salah seorang dari kepala suku Bani Qarni datang ke kota Makkah utk melaksanakan ibadah haji. Ketika kepala suku itu bertemu dg Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu, Umar bertanya kepadanya tentang keadaan Uwais. Kepala suku itu lalu menjawab,”Aku tinggalkan dia dalam keadaan sangat menyedihkan, miskin sekali.” Mendengar jawaban itu, Umar lalu memberitahukan apa yg disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepadanya tentang Uwais. Umar berkata,”Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,’Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama sekelompok rombongan dari negeri Yaman, dia berasal dari Bani Qarni bermarga Murad. Dahulu ia pernah terkena penyakit kusta, namun ia pun sembuh dari penyakit itu, kecuali masih tertinggal sedikit lagi. Apabila engkau mau agar dia memohonkan pengampunan bagimu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala , maka lakukanlah’."
Setelah selesai mengerjakan ibadah haji, kepala suku itu pun pulang & langsung menemui Uwais, lantas berkata kepadanya: “Mohonkanlah ampunan bagiku kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.” Uwais menjawab,”Engkau baru saja kembali dari suatu perjalanan shalih (kebajikan). Engkaulah yg lebih pantas utk memintakan aku pengampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Apakah engkau bertemu dg Umar?” Kepala suku itu menjawab: “Ya, aku bertemu dengannya.” Setelah itu Uwais pun mendoakannya, sehingga orang-orang pun mengetahui tentang dirinya, lantas pergi meninggalkannya. Usair berkata: “Uwais mengenakan pakaian burdah. Dan setiap orang yg melihat pakaian tersebut, mereka pasti bertanya, dari mana Uwais mendapatkan pakaian itu?"
Pada hakikatnya ruqyah itu sama seperti doa, bahkan dikategorikan sebagai doa & yg semisalnya. Seandainya penduduk sebuah negeri bergantian mendatangi seseorang yg tampaknya bisa memberikan kebaikan bagi anak-anak mereka dg cara men-tahnik-nya dg kurma / lainnya, maka banyak juga orang yg datang membawa anak mereka utk di tahnik. Yang nampak sangat jelas pd zaman Nabi, banyak bayi yg lahir, tetapi tdk dibawa kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam minta utk di tahnik. Oleh karena itu, seharusnya orang yg meruqyah khawatir terhadap dirinya / terhadap mereka dari fitnah.
Ironisnya pd zaman sekarang ini, ada beberapa thullabul ilmi (penuntut ilmu syar’i) yg didatangi oleh beribu-ribu orang dg tujuan meminta ruqyah kepadanya, kemudian mereka meninggalkan para ulama; apakah mereka tdk merasa takut terhadap fitnah ujub, riya’, sombong & lain sebagainya?
Jika sudah jelas dalam masalah ini terdapat kerusakan terhadap masyarakat, terutama orang-orang awam, yaitu timbulnya ketergantungan & kepasrahan mereka terhadap peruqyah lebih besar daripada ketergantungan & kepasrahan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala & firmanNya; mereka menyangka, kesembuhan itu berhubungan dg peruqyah hanya karena melihat banyaknya pengunjung yg datang menemuinya, sementara hal ini merupakan sesuatu yg tdk pernah mereka lihat pd sebagian besar ulama-ulama shalih, maka tdk diragukan lagi, mencegah kehancuran lebih baik daripada mengharapkan kebaikan, khususnya apabila kehancuran yg diakibatkan lebih besar daripada kebaikan yg diharapkan. Di samping itu, meruqyah seperti itu juga bisa mendatangkan kerusakan pd diri peruqyah sendiri; misalnya, menjadikan dirinya tenar & membuat dirinya merasa tinggi hati, lantas memulai ruqyah dg cara-cara yg tdk pernah dikenal di kalangan ulama-ulama salafush shalih, seperti dg cara memukul, / gaya tertentu, / membacakan terhadap beratus-ratus orang secara bersamaan dg satu bacaan, lantas meniup pd bejana-bejana mereka setelah bacaan tadi. Semua ini adalah perbuatan bid’ah.
Sesungguhnya orang-orang yg mengkhususkan diri utk meruqyah, sama seperti orang yg mengkhususkan dirinya utk berdoa bagi orang lain; sehingga dg demikian, ruqyah & doa adalah sama. Jadi apakah pantas bagi seorang penuntut ilmu mengatakan “kemari, datanglah kepadaku, aku akan mendoakanmu”.
Ini sangat bertentangan dg petunjuk para salafush shalih. Selain itu juga, dahulu Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu & para sahabat lainnya serta para tabi’in benci apabila ada seseorang datang meminta doa kepada mereka. Mereka berkata “apakah kami ini seorang nabi?”
Dampak negatif menyebarnya hal ini, yaitu bisa menimbulkan keraguan pd diri orang awam & orang-orang yg tdk berilmu; mereka menyangka, cara ini adalah cara yg benar dalam melakukan ruqyah, sehingga mereka pun pergi meminta ruqyah kepada orang lain & melupakan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam meruqyah, yaitu meruqyah diri sendiri & menyerahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala utk memohon kesembuhan kepadaNya.
Kesimpulan dari penjelasan di atas, bahwasanya mengkhususkan diri menjadi peruqyah & menjadikannya sebagai profesi (mata pencaharian), menurut penjelasan para ulama ahlus sunnah, tdk dibenarkan. Hal seperti ini akan menjerumuskan kepada bahaya, fitnah & lain sebagainya, sebagaimana telah dijelaskan di atas. Wallahu a’lam bish shawab.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis, thullabul ‘ilmi & kaum muslimin. Mudah-mudahan kita tetap ditunjuki ke jalan yg benar, mengikuti Al Qur`an & Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.
Washallahu’ala Nabiyyina Muhammadin Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Maraji’:
1. Ar Ruqaa; ‘Ala Dhau’i Aqidati Ahli As Sunnati Wal Jama’ati Wa Hukmu At Tafarrughi Laha Wat Tikhaadzihaa Hirfah, oleh Dr. Ali bin Nufayyi’ Al Alyani, Cet. I, Darul Wathan, Th. 1411 H.
2. Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
3. Fatawa Al Ulama Fi ‘Ilajis Sihr Wal Mass Wal ‘Ain Wal Jann, Jam’u Wa Tartib Nabiyyil Bion, Muhammad Mahmud, Cet. II, Darul Qasim, Th.14221 H.
4. Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil Ibad, Juz 4, oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, tahqiq Syu’aib & Abdul Qadir Al Arna-uth, Cet. Muassassah Ar Risalah, Th. 1415 H.
5. Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, ta’lif Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab, tahqiq Dr. Walid bin Abdurrahman Al Furayyan, Th. 1419 H.
6. Risalah Fi Ahkamir Ruqaa Wat Tamaaim Wa Shifati Ruqyah Asy Syar’iyyah, Muhammad bin Ibrahim.
7. Qawa’id Ar Ruqyah Asy Syar’iyyah, oleh Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman As Sad-haan, Cet. Dar Al ‘Ashimah, Th. 1415 H.
(Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06//Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016)
Penulis: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas & diterbitkan oleh almanhaj.or.id

Minggu, 10 April 2011

Kemewahan Tidak Selalunya Menyenangkan Dan Mendamaikan

Banyak manusia mengartikan bahwa kebahagiaan hidup akan terasa sangat sempurna saat kelezatan kemewahan itu sudah berada digenggaman. Ketika kemewahan hadir,maka kekayaan, kehormatan, dan kesenangan pun menglingkari hari-harinya. Ya, memang begitulah sifat manusia yang pasti menginginkan segalanya tercukupi, segalanya serba tersedia dan lengkap untuknya.

Namun sayangnya, banyak diantara mereka yang menghabiskan hari -harinya dengan begitu saja hanya untuk berpeluh demi menggapai semua itu. Bahkan ada yang sampai menghalalkan segala cara demi mengumpulkan harta atas rujukan gengsi dan nafsu mereka. Perlombaan mereka sungguh hebat dan dahsyat mulai dari yang menggelikan hingga yang begitu mengerikannya. Bahkan kemewahan hidup bisa menggiring manusia bertingkah polah lebih hina daripada hewan.
...Atas rujukan gengsi dan nafsu, kemewahan menjadikan mereka sebagai peserta "Perlombaan" yang sungguh hebat dan dahsyat mulai dari yang menggelikan hingga yang begitu mengerikannya. Tak jarang pula, kemewahan menggiring manusia bertingkah polah lebih hina daripada hewan...
Sebuah kemewahan nyatanya menjadi magnet yang sangat ampuh dalam memberikan godaan dan melalaikan. Salah satunya adalah lewat penghormatan. Kemewahan memberikan mereka citra dan kebanggan tersendiri bagi para pemiliknya. Orangpun akan dianggap memandang segan kepadanya. Namun beberapa manusia tidak menyadari, betapa semunya semua itu. Penghormatan yang mereka dapatpun akan segera hilang seiring dengan terkikisnya kemewahan hidup mereka. Ketika diri tak lagi memiliki apapun, maka siapa yang akan memandang dan mengagungkannya. Sungguh sangat menyedihkan sekali.

Kemewahan telah menghipnotis mereka dalam tidur lelap diatas kasur yang empuk dan nyamannya ruangan, sehingga sholat malam merekapun berlalu begitu saja. Atau malah sebaliknya, kemewahan telah mencuri waktu berharga dalam istirahat mereka lewat insomnia. Mereka kesulitan bahkan untuk hanya sekedar tidur gara-gara takut kekayaannya diambil dicuri.
...Kemewahan telah mengisolasi mereka dalam tingginya pagar rumah dan sempitnya hati, sehingga mereka merasa sudah sangat cukup dengan diri sendiri dan melupakan silaturahmi. Kasihan sekali, karena faktanya mereka adalah sendiri, dan hanya sendiri. Hanya ditemani harta mereka yang hanya sebuah benda mati..
Kemewahan telah mengisolasi mereka dalam tingginya pagar rumah dan sempitnya hati, sehingga mereka merasa sudah sangat cukup dengan diri sendiri dan melupakan silaturahmi. Kasihan sekali, karena faktanya mereka adalah sendiri, dan hanya sendiri. Hanya ditemani harta mereka yang hanya sebuah benda mati.
Kemewahan telah menghabiskan investasi yang begitu berharga dalam hidupnya, waktu. Karena kemauan nafsu untuk terus mengumpulkan harta, maka jatah umur merekapun habis tanpa mereka menyadarinya. Waktu, sesuatu yang jika telah pergi tak akan pernah bisa kembali, dan sangat disayangkan ketika mereka sadar di akhir usia bahwa mereka telah menukar sikap mereka tersebut dengan sesuatu yang justru sangat lebih berharga dari kemewahan yang mereka perjuangkan. Kebersamaan, sikap rendah hati, dan kasih sayang nyatanya tidak terbeli oleh harta mereka.
...Mendewakan duniawi dan sebagainya hanyalah menjadikan kita budak. Ya, budak atas nafsu dan keinginan yang tidak akan pernah ada batasnya...
Lalu mengapa kita lalu tidak mengubah pola pikir kita bahwa kekayaan adalah bukan segala-galanya.Mendewakan duniawi dan sebagainya hanyalah menjadikan kita budak. Ya, budak atas nafsu dan keinginan yang tidak akan pernah ada batasnya.Ketika manusia sudah dapat memenuhi sebuah jurang dengan kekayaannya, maka pasti mereka akan menginginkan  jurang yang lain untuk terisi dengan hal yang sama.
Maka kesyukuran menjadikan kita pribadi yang bijak dalam keadaan kita bergelimang kemewahan atau kekurangan sekalipun. Ketika kita memiliki mobil,kita sangat bersyukur dibanding melihat yang berpanas-panas naik motor.Ketika naik motor kita bersyukur dibanding orang yang berpeluh karena mengayuh sepeda,Ketika naik sepeda kita bersyukur daripada orang yang berjalan kaki.Ketika berjalan kaki,kita bersyukur daripada melihat orang yang naik kursi roda dan didorong oleh seseorang dibelakangnya.hmmm..itulah hidup.
...Ada kalanya hedonisme itu menyenangkan,tetapi lebih menyenangkan lagi jika kita dapat mensyukuri karunia NYA dan dapat hidup sederhana nisacaya hal itu yang akan lebih kekal. Kehidupan hedonisme terkadang sangat mengenakkan untuk beberapa saat,tapi yakinlah hal itu takkan berlangsung lama....
Memang segala- galanya butuh uang, tapi uang bukanlah segala-galanya. Dan ternyata banyak hal didunia ini justru terlalu banyak hal yang tidak bisa dibeli walaupun kita bergelimang kemewahan. Dan ternyata juga, kesyukuran atas apapun yang Allah berikan kepada kita menjadikan kita sangat tercukupi dan damai. Jangan berfikir bahwa hedonisme itu buruk dan anti hedonisme itu yang terbaik. Ada kalanya hedonisme itu menyenangkan,tetapi lebih menyenangkan lagi jika kita dapat mensyukuri karunia NYA dan dapat hidup sederhana nisacaya hal itu yang akan lebih kekal. Kehidupan hedonisme terkadang sangat mengenakkan untuk beberapa saat,tapi yakinlah hal itu takkan berlangsung lama.
(Syahidah)

Jumat, 08 April 2011

Sesungguhnya WANITA Itu CANTIK

Sesungguhnya WANITA Itu CANTIK


Ada cara yang mudah dan murah untuk membuat perempuan cantik, meskipun secara fisik mereka kurang menarik. Yang pertama kali harus dilakukan adalah mendefinisikan kembali makna cantik tersebut. Cantik bukan masalah fisik semata. Kecantikan sejati juga bisa diraih dengan memaknakan kecantikan sebagai berikut:

1. Kecantikan perempuan ada dalam iman taqwanya yang menyejukkan mata kaum laki-laki.

Seorang perempuan yang menghias jasmaninya dengan iman dan taqwa akan memancarkan cahaya surga. Dengan kepatuhannya menjalankan ibadah, ia akan memesona.Yang kuasa akan memberikannya kecantikan abadi, magnet alami. Tak perlu kosmetik, parfum atau penampilan berlebih, laki-laki akan tertarik padanya.

2. Kecantikan perempuan ada pada kehangatan sikapnya yang mampu menggetarkan sensifitas dan kecintaan pria.

Secara umum laki-laki memang responsif terhadap perempuan yang bagus fisiknya. Tapi ketertarikan itu tak kekal, bisa membuat laki-laki bosan. Kehangatan kasih sayang dan cinta kasih yang tuluslah yang akan membuat sang pria nyaman berada di sisinya. Tak bisa melupakannya.

3. Kecantikan Perempuan ada pada kelembutan sikapnya

Kelembutan bukan berarti lembek dan manja. Kelembutan seperti roti. Meskipun sedikit, tapi mengenyangkan. Dari toko roti manapun roti berasal, ia tetap lembut. Jadi perempuan dari suku manapun bisa tetap lembut, pada pasangannya, pada anak-anaknya. Asalkan ia mau berusaha.

4. Kecantikan perempuan berada dalam pandangannya yang teduh dan suaranya yang hangat.

Walau mata tak seindah bintang kejora, setiap perempuan bisa memiliki mata embun. Teduh. Sejuk. Tak gampang emosi. Menyikapi tingkah laku sekitarnya secara bijak. Ia selau berprasangka baik. Perkatannya bukan pisau yang menikam. Perkataannya adalah bara yang menyalakan semangat di dada. Tak ada kata sia-sia yang terucap dari bibirnya.

5. Kecantikan perempuan berada dalam senyumannya yang menambah kecantikannya dan membuat gembira hati orang yang melihatnya.

Senyum adalah sedekah. Murah senyum tanpa bermaksud menggoda apalagi berlebihan bisa membuat wajah indah. Meskipun berwajah rupawan, tapi jika malas tersenyum, hanya aura negatif yang akan ditangkap oleh orang-orang di sekitarnya

6. Kecantikan perempuan berada pada intelektualitasnya

Ukuran intelektual bukan pada gelar sarjananya atau di mana ia pernah menuntut. Banyak ilmu-ilmu yang bisa dipungut dari sekitar, yang membuat si perempuan mejadi cerdas. Kehidupan adalah sekolah yang tak pernah tamat sebelum ajal menjelang. Tak ada sekolah untuk menjadi istri yang baik. Tak ada universitas yang melahirkan ibu yang baik. Ruang dan waktulah yang akan menempa perempuan menjadi istri dan ibu yang baik.

7. Kecantikan perempuan berada pada seberapa jauh pengetahuannya akan tanggung jawabnya terhadap keluarga, rumah, anak-anak , masyarakat dan umat manusia.

Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Seberapa jauh pengetahuan seorang perempuan akan terlihat dari tingkah laku keluarganya. Ia selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Mengambil peran penting dalam rangka memperbaiki lingkungan. Lihatlah laki-laki sukses di jagat raya. Dibalik kesuksesannya, pasti ada perempuan tangguh yang menemaninya. Menjadi pendukung nomor satu, tempat kembali saat sang pahlawan lelah berjuang.

8. Kecantikan perempuan berada pada kemampuan dan keinginannya untuk memberi.

Orang bisa miskin harta, tapi ia bisa kaya hati. Selalu memberi, tanpa mengharap imbalan yang berarti. Ia senang ketika orang lain senang. Ia sedih ketika orang lain sedih. Kemurahan hatinya membuat wajahnya bersinar. Membuat ia selalu dirindukan, meskipun sosoknya biasa-biasa saja.


Sahabatku...
Kecantikan-kecantikan ini sifatnya abadi.
Akan dikenang meskipun si perempuan telah tiada.
Tidak seperti kecantikan lahiriah yang sementara.
Setelah tua, ketika senja menyapa, ia tak menarik lagi.
Manakah yang akan Anda pilih?
Kecantikan sementara atau kecantikan abadi?

(oleh Zafiruddin Ziyaad )

MASIH HIDUPKAH HATIKU

Ibnu Abil 'Izz al-Hanafi rahimahullah mengatakan (Syarh al-'Aqidah ath-Thahawiyah, tahqiq Al-Albani, hal. 274-275), "Ketahuilah, sesungguhnya hati bisa hidup dan bisa mati, bisa sakit dan bisa sehat. Hati merupakan unsur (non-fisik) yang paling agung di dalam tubuh. Allah ta'ala berfirman (yang artinya, "Apakah sama antara orang yang dahulunya mati kemudian Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya untuk berjalan di antara manusia, dengan orang yang senasib dengannya namun tetap terkungkung di dalam kegelapan dan tidak bisa keluar darinya." (QS. al-An'am : 122). Maksudnya orang tersebut sebelumnya mati karena tenggelam dalam kekafiran, kemudian Kami (Allah) pun menghidupkan jiwanya dengan iman."

Beliau melanjutkan, "Hati yang sehat dan hidup apabila disodori kebatilan dan perkara-perkara yang buruk maka nalurinya akan mendorong untuk menjauhi hal itu dan membencinya serta tidak mau memperhatikannya. Berbeda keadaannya dengan hati yang mati. Hati yang mati tidak mampu membedakan baik dan buruk. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu, "Celakalah orang yang tidak memiliki hati yang dapat mengenal perkara ma'ruf dan mungkar." Begitu pula halnya hati yang sakit karena terjangkit (dikuasai) syahwat. Maka hati (yang sakit) semacam itu -karena kelemahannya- akan condong kepada kebatilan dan keburukan yang disodorkan kepadanya sesuai dengan kadar kuat-lemahnya penyakit tersebut." (hal. 275)

Kemudian Ibnu Abil 'Izz rahimahullah memaparkan, "Penyakit hati ada dua macam, sebagaimana yang telah disinggung di depan : penyakit syahwat (keinginan yang terlarang) dan penyakit syubhat (penyimpangan cara berpikir). Penyakit yang paling buruk di antara keduanya adalah syubhat, dan syubhat yang paling buruk adalah yang terkait dengan masalah takdir. Terkadang hati itu menderita sakit dan semakin bertambah parah namun orangnya tidak menyadarinya. Hal itu bisa saja terjadi karena dia tidak mau mengenali hakekat kesehatan hatinya dan sebab-sebab untuk menjagaya. Bahkan terkadang hati seseorang mati namun dia tidak menyadari kematiannya. Ciri yang menunjukkan keadaan itu adalah tatkala [1] dosa yang timbul akibat melakukan perbuatan maksiat tidak lagi membuat hatinya terluka, begitu pula [2] ketika kebodohannya terhadap kebenaran dan ketidak mengertiannya mengenai aqidah yang keliru sudah tidak terasa menyakitkan baginya. Sebab apabila hati masih hidup tentu akan bisa merasakan sakit karena mengalirnya sesuatu yang buruk (dosa) kepadanya, dan merasa sedih dan terluka akibat kebodohan dirinya terhadap kebenaran, dan besarnya rasa sakit itu bergantung pada kadar kehidupan yang ada padanya. (Sebagaimana dikatakan oleh penyair), "Luka di tubuh mayit, tentu tidak terasa menyakitkan baginya."." (hal. 275)

Ibnu Abil 'Izz al-Hanafi rahimahullah mengatakan, "Terkadang orang merasakan penyakit yang bersarang di dalam hatinya, namun dia mau menahan rasa pahit yang sangat demi menelan obat dan berusaha tetap sabar untuk menyembuhkan dirinya. Maka dia lebih menyukai merasa sakit karena proses pengobatan yang harus dijalaninya yang sedemikian susah (daripada membiarkan penyakitnya terus menjalar). Sesungguhnya obat untuk penyakit hati adalah dengan berjuang menyelisihi hawa nafsu. Padahal perkara itu -menyelisihi nafsu- adalah sesuatu yang sangat sulit dan berat bagi jiwa manusia. Namun, memang tidak ada obat lain yang lebih manjur daripada obat itu. Terkadang, ketika berusaha untuk melatih jiwanya untuk sabar kemudian ternyata tekadnya memudar di tengah jalan sehingga hal itu membuatnya tidak mau lagi bertahan; karena begitu lemahnya ilmu, keyakinan, dan kesabaran dirinya. Hal itu sebagaimana halnya orang yang berusaha menempuh suatu jalan menuju daerah yang aman namun jalan itu diliputi dengan hal-hal yang menakutkan. Padahal, si penempuh jalan itu pun menyadari bahwa apabila dia mau bersabar niscaya rasa takut itu akan lenyap dan berakhir dengan rasa aman. Untuk itulah dia memerlukan kekuatan sabar dan keyakinan yang kokoh terhadap tujuan yang akan dicapai. Kapan saja sabar dan keyakinannya melemah, maka dia akan berputar haluan meninggalkan jalan itu dan tidak mau repot-repot merasakan beratnya kesulitan yang ada di sana. Apalagi jika tidak ada teman (baik) yang menyertainya sehingga dia merasa gentar berjalan sendirian (di atas kebenaran), maka dia pun mengeluh, "Di manakah orang-orang (baik) itu, di saat aku membutuhkan mereka; sehingga aku bisa meniru mereka!". Inilah keadaan yang menimpa kebanyakan orang, dan itulah penyebab kehancuran mereka. Sesungguhnya orang yang benar-benar sabar dan tulus tidak akan merasa gentar hanya karena sedikitnya teman ataupun karena kehilangan kawan; hal ini akan bisa dia rasakan ketika hatinya senantiasa merasakan kebersamaan (persahabatan) dengan generasi yang pertama, yaitu (sebagaimana makna firman Allah), "Orang-orang yang diberikan kenikmatan oleh Allah yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada' dan orang-orang salih. Mereka itulah sebaik-baik teman." (QS. an-Nisaa' : 69)…." (hal. 275)

Beliau kembali menuturkan, "Tanda sakitnya hati adalah ketika dia berpaling dari mengkonsumsi asupan gizi yang bermanfaat dan cocok (bagi kesehatan hatinya) menuju asupan-asupan yang berbahaya, serta ketika dia berpaling meninggalkan obat yang manjur kepada obat yang membahayakannya. Maka di sini ada empat perkara : [1] asupan yang bermanfaat, [2] obat yang menyembuhkan, [3] asupan yang membahayakan, dan [4] obat yang membinasakan. Hati yang sehat akan memilih sesuatu yang bermanfaat dan menyembuhkan daripada sesuatu yang berbahaya dan menyakiti. Sedangkan hati yang sakit justru sebaliknya. Asupan paling bermanfaat adalah asupan iman, sedangkan obat paling bermanfaat adalah obat al-Qur'an, dan masing-masing dari keduanya (iman dan al-Qur'an) juga menyimpan asupan sekaligus obat. Sehingga orang yang menginginkan kesembuhan dengan selain (bimbingan) al-Kitab dan as-Sunnah, maka dia tergolong ajhalul jaahiliin (orang yang paling bodoh) dan termasuk deretan adhalludh dhaalliin (orang yang paling sesat)…" (hal. 276).

Allahul musta'aan.

Kamis, 07 April 2011

SIAPA YANG MENGAPUNI TAKALA Paus Berdosa




Surat Kabar Swiss: Paus Pendosa Terbesar

Skandal pelecehan seksual terhadap anak-anak menggoyang Gereja Katolik, bahkan Sabtu kemarin (27/3), Paus Benedict XVI oleh salah satu surat kabar disebut sebagai "Pendosa Besar", surat kabar itu mengatakan penanganan krisis pelecehan seksual oleh Benedict hanya akan memperkuat kekuasaannya.

Sebagaiman banyaknya tuduhan yang menumpuk terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pastor dalam skandal yang melanda Amerika Serikat dan Eropa, media menyatakan keterkejutan dan kebingungan mereka dalam komentar dan editorial.

"Bagaimana mungkin orang Katolik melakukan hal semacam itu?" tanya surat kabar Inggris The Independent.

Bagaimana mungkin pastor menerima pengakuan dosa dalam persekutuan "sementara mereka memperkosa anak-anak?" Ini menimbulkan pertanyaan besar. "Apa yang terjadi di dalam jiwa mereka?"

Di Spanyol El Pais, seorang profesor teologi berkata bahwa Gereja Katolik Roma dengan cepat dapat menghubungkan aborsi dengan dosa tetapi mereka "kesulitan melakukan hal yang sama ketika datang kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang yang berdedikasi kepada Tuhan."

Sebuah jajak pendapat di majalah Jerman Stern, ditemukan turunnya keyakinan masyarakat terhadap Gereja, yang turun pada posisi 17 persen dari 29 persen pada bulan Januari, sedangkan kepercayaan terhadap Paus turun hingga 24 persen dari 38 persen pada periode yang sama.

"Paus adalah seorang pendosa terbesar di seluruh Gereja Katolik," kata salah seorang nasional Swiss seperti dikutip di surat kabar Tribune de Geneve.

Tetapi Vatikan - yang oleh York Times melaporkan pada hari Jumat bahwa Benediktus telah gagal untuk bertindak tegas melawan untuk menghentikan seorang pastor yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak pada tahun 1980 an - ia mengatakan, bahwa dirinya tidak akan

Skandal Seks Gereja Katolik: Tangkap dan Adili Paus Benediktus!

LONDON (voa-islam.com) — Terkait maraknya skandal seksual di Gereja Katolik, seorang ilmuwan, penulis dan aktivis anti-agama asal Inggris, Richard Dawkins akan berupaya melakukan penangkapan terhadap Paus Benekdiktus XVI, ketika Paus berkunjung ke Inggris tanggal 16-19 September 2010 mendatang.

Penangkapan dimaksudkan agar Paus bisa menghadapi pertanyaan-pertanyaan mengenai skandal pelecehan anak di gereja Katolik. Ide gila ini dikemukakan hari Ahad (11/4) waktu setempat.

Untuk itu, Dawkins meminta pengacara hak asasi manusia mengkaji apakah tuntutan bisa diajukan terhadap Paus.

Sesuai jadwal, kunjungan paus selama empat hari sejak 16 September 2010 itu akan menjadi lawatan pertama Paus sejak kunjungan pastoral Paus Yohanes Paulus II tahun 1982 dan merupakan kunjungan resmi pertama Paus ke Inggris.

Dawkins dan wartawan Inggris, Christopher Hitchens, menugasi pengacara Geoffrey Robertson dan Mark Stephens untuk menjajaki cara-cara melakukan tindakan hukum terhadap Paus.

… ada tiga pendekatan yang memungkinkan tindakan hukuman terhadap Paus: pengaduan ke Pengadilan Kejahatan Internasional di Belanda, penuntutan pribadi atau umum "atas kejahatan kemanusiaan", atau kasus sipil…

Dalam pernyataan e-mail kepada media, Stephens mengatakan, ada tiga pendekatan yang memungkinkan tindakan hukuman terhadap Paus: pengaduan ke Pengadilan Kejahatan Internasional di Belanda, penuntutan pribadi atau umum "atas kejahatan kemanusiaan", atau kasus sipil.

Mereka akan berargumentasi bahwa Paus tidak memiliki kekebalan diplomatik dari penuntutan selaku kepala negara karena Vatikan memiliki "status pengamat permanen" di PBB, tidak memiliki keanggotaan penuh atau hak suara.

Dawkins, penulis "The God Delusion" dan "The Selfish Gene", mengatakan kepada surat kabar Sunday Times, ia mencurigai kasus pelecehan anak yang dilakukan oleh anggota-anggota gereja telah ditutup-tutupi.

Hitchens, yang menerbitkan sebuah buku tahun 2007 berjudul "God Is Not Great: The Case Against Religion", mengatakan, "Orang ini (Paus) tidak berada di atas atau di luar hukum. Tindakan kelembagaan menutup-nutupi pelecehan anak merupakan kejahatan menurut hukum."

Pengecam menuduh Benediktus lalai menangani kasus-kasus pelecehan dalam peran sebelumnya selaku kardinal di negara asalnya, Jerman, dan di Roma.

Akhir-akhir ini Gereja Katolik di seluruh dunia dihantui wabah pelecehan seksual terhadap anak-anak (pedofilia) yang dilakukan oleh para pastor, uskup dan biarawan di Irlandia, Jerman, Austria, Belanda, Denmark, Swiss, Amerika Serikat, dll.

Meski Vatikan selalu menolak klaim bahwa Paus menutup-nutupi pelecehan yang dilakukan para pastor, akhirnya, Paus Benediktus XVI menulis menerbitkan Surat Pastoral, Jumat (19/3/2010) yang menyesalkan dan mengecam para pastor dan uskup pedofil di Irlandia. Dalam surat sebanyak 18 lembar tersebut, Paus menganggap kasus tersebut sebagai kejahatan yang serius. [taz/rpb, kmp, dbs]

Baca berita terkait:

1. Akhirnya Paus Minta Maaf kepada Korban Pelecehan Seks Pastor di Irlandia
2. Paus Hanya Kirim Surat untuk Atasi Pelecehan Seks Anak di Gereja-Gereja
3. Pelecehan Seks di Gereja Belanda Sudah Terjadi Sangat Lama Sekali
4. Dosa-dosa Seksual Para Pastor di Gereja Katolik Roma
5. Giliran Denmark Akan Bongkar Skandal Seksual Pastor di Gereja Katolik
6. Gereja Katolik Minta Maaf atas Wabah Pelecehan Seksual Pastur terhadap Anak-anak.
7. Dituduh Pedofilia, Dua Uskup Mundur di Irlandia.
8. Soal Skandal Seks Gereja Katolik: Tangkap dan Adili Paus Benediktus!

Rabu, 06 April 2011

AJAKLAH HATI BICARA

• Ketika dirimu gelisah...
Sentuhlah hatimu dgn lantunan ayat2 cinta dalam kitab suci Al-qur'an.

• Ketika kau lemah...
Rangkum kembali makna-makna kebersamaan
bersama saudara-saudaramu agar saling menguatkan.

• Ketika kau lelah dan mulai putus asa...
Maka Allah swt akan tersenyum padamu...
YAKINLAH tiada usaha halal yg sia-sia.

• Ketika peluh & kerja tak dihargai...
Maka ingatlah saat itu kita sedang belajar tentang KETULUSAN.

• Ketika usaha keras kita dinilai sia-sia oleh orang lain...
Maka saat itu kita sedang memaknai KEIKHLASAN.

• Ketika hati terluka dalam karena tuduhan atas hal yang tak pernah kita lakukan...
Maka saat itu kita sedang belajar tentang MEMAAFKAN.

• Ketika lelah mendera & kecewa menerpa...
Maka saat itu kita sedang belajar memaknai tentang arti KESUNGGUHAN.

• Ketika sepi menyergap & sendiri membulat dalam keramaian...
Maka saat itu kita sedang memberi makna tentang KETANGGUHAN.

• Ketika kita harus membayar biaya yang sebenarnya tak perlu kita tanggung,
Maka saat itu kita sedang belajar tentang KEMURAHAN HATI
• Bersama kesulitan ada kemudahan...Bersama Kesulitan ada kemudahan...
Jangan pernah merugikan & menyakiti org lain.
Allah maha meliihat & mendengar rintihan hatimu: BERDOALAH.

• Tetap semangat, sabar, tersenyum...
Dan Terus belajar..!! Karena kamu sedang menimba ilmu di Universitas KEHIDUPAN!

• Dia menaruhmu di tempat yang sekarang, bukan karena kebetulan..!!
Ada maksud yg TERINDAH di setiap rencanaNya..!! Bergembiralah !!